Konjungsi
Temporal
Konjungsi temporal
adalah konjungsi yang menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa
Contoh : sebelum,
ketika, sejenak, semenjak, setelah, sementara.
Konjungsi/kata
hubung/kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan antar klause, antar
kalimat, dan antar paragraph.
Ungkapan
Ungkapan
adalah satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat) yang terbentuk dari gabungan
kata yang maknanya bukan ditafsirkan berdasarkan kata – kata pembentuknya,
tetapi telah membentuk makna baru.
Contoh :
Majas
Majas adalah bahasa kias yang
dipergunakan untuk menimbulkan kesan imajinatif atau menciptakan efek-efek
tertentu bagi pembaca atau pendengarnya.
Jenis-jenis
Majas terdiri dari :
1.
Majas
perbandingan
a.
Asosiasi
atau Perumpamaan
Majas asosiasi
atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda,
tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai,
bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Contoh : Semangatnya
keras bagaikan baja
Mukanya pucat
bagai mayat.
b.
Metafora
Majas metafora
adalah majas yang merubah kata yang bukan arti sebenarnya melainkan memiliki
persamaan dengan kata yang diubah.
Contoh :
Dia dianggap anak emas majikannya.
Perpustakaan
adalah gudang ilmu.
c.
Personifikasi
Personifikasi
adalah membuat benda-benda mati seolah olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
Ombak
berkejar-kejaran ke tepi pantai.
d.
Simbolik
Simbolik adalah
majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai
simbol atau lambang.
Contoh:Bunglon,
lambang orang yang tak berpendirian
Melati, lambang
kesucian Teratai, lambang pengabdian
e.
Metonimia
Metonimia adalah
majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan
benda tersebut.
Contoh: Di
kantongnya selalu terselib gudang garam. (rokok gudang garam)
Setiap pagi Ayah
selalu menghirup kapal api. (kopi kapal api)
2.
Majas
Sindiran
a.
Ironi
Ironi adalah
majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud menyindir.
Contoh:
Ini baru siswa
teladan, setiap hari pulang malam.
Bagus sekali
tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.
b.
Sinisme
Sinisme adalah majas yang
menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh:
Perkataanmu tadi sangat
menyebalkan, tidak pantas diucapkan oleh orang terpelajar sepertimu.
Lama-lama aku bisa jadi gila
melihat tingkah lakumu itu.
c.
Sarkasme
Sarkasme adalah
majas sindiran yang paling kasar. Majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang
sedang marah.
Contoh:
Mau muntah aku
melihat wajahmu, pergi kamu!
Dasar kerbau
dungu, kerja begini saja tidak becus!
3.
Majas
Penegasan
a.
Pleonasme
Pleonasme adalah
majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud menegaskan
arti suatu kata.
Contoh:
Semua siswa yang
di atas agar segera turun ke bawah.
Mereka mendongak ke atas
menyaksikan pertunjukan pesawat tempur.
b.
Repetisi
Repetisi adalah majas perulangan
kata-kata sebagai penegasan.
Contoh:
Dialah yang kutunggu, dialah yang
kunanti, dialah yang kuharap.
Marilah kita sambut pahlawan kita,
marilah kita sambut idola kita, marilah kita sambut putra bangsa.
c.
Paralelisme
Paralelisme adalah majas perulangan
yang biasanya ada di dalam puisi. Contoh: Cinta adalah pengertian
Cinta adalah kesetiaan
Cinta adalah rela
berkorban
d.
Tautologi
Tautologi adalah
majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat
dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.
Contoh:
Bukan, bukan,
bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar pikiran saja.
Seharusnya
sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara.
e.
Klimaks
Klimaks adalah
majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut dan makin lama makin
meningkat.
Contoh:
Semua orang dari
anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri minyak.
Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur,
bahkan presiden sekalipun tak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.
f.
Antiklimaks
Antiklimaks
adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut- turut yang makin lama
menurun.
Contoh:
Kepala sekolah,
guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuran itu.
Di kota dan desa hingga pelosok
kampung semua orang merayakan HUT RI ke -62.
g.
Retorik
Retorik adalah
majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya
memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh:
Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal saja?
4.
Majas
Pertentangan .
a.
Antitesis
Antitesis adalah
majas yang mempergunakan pasangan kata yang berlawanan artinya.
Contoh:
Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival itu.
Miskin kaya,
cantik buruk sama saja di mata Tuhan.
b.
Paradoks
Paradoks adalah
majas yang mengandung pertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada.
Contoh;
Aku merasa
sendirian di tengah kota Jakarta yang ramai ini.
Hatiku merintih
di tengah hingar bingar pesta yang sedang berlangsung ini.
c.
Hiperbola
Majas hiperbola
adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari kenyataannya dengan maksud
memberikan kesan mendalam atau meminta perhatian.
Contoh:
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
Tubuhnya tinggal
kulit pembalut tulang.
d.
Litotes
Litotes adalah
majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang berlawanan dari kenyataannya
dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk merendahkan diri.
Contoh:
Makanlah
seadanya hanya dengan nasi dan air putih saja.
Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti
saya ini?
Kalimat
Efektif
Kalimat
efektif merupakan kalimat yang mempunyai gagasan tidak amigo (bermakna ganda) sesuai
dengan kaidah bahasa Indonesia, baik dari segi ejaan atau tanda baca.
Ciri-ciri
kalimat efektif :
1) Tidak terkontaminasi ejaan bahasa
lain
Contoh : bukune fajar sing apik
dewek <–> buku Fajar yang paling bagus
2) Tidak menggunakan kata yang memiliki
makna jama dalam satu kalimat
Contoh : para hadirin dipersilahkan
duduk <– >hadirin dipersilahkan duduk
3) Menggunakan kata baku
Contoh : sisiwa dilarang mencontek
<– > dilarang menyontek
4) Menggunakan kata bentukan yang tepat
Ktsp
+ vocal + me, me-i, me-kan
Contoh : konsumsi + me = mengonsumsi
Tutup + me = menutup
5)
Menggunakan
konjungsi dengan tepat
Suatu
kalimat dikatakan efektif jika memenuhi syarat berikut:
1) Mudah untuk dipahami pembaca maupun
pendengar.
2) Tidak menimbulkan salah tafsir oleh
pembacanya.
3) Tepat cara penulis
menyampaikan pemikirannya kepada pembaca.
4) Kalimatnya sistematis dan tidak
bertele-tele.
Teks
Cerita Sejarah
Teks
cerita sejarah adalah teks yang
berisi rangkaiana peristiwa yang telah terjadi
Struktur teks cerita sejarah
1. Orientsi/pengenalan adalah bagian yang berisi
informasi mengenai apa, dimana, kapan, peristiwa terjadi dimasa lalu
2. Peristiwa /event adalah bagian yang memberikan
informasi mengenai peristiwa secara kronologis yang terjadi dimasa lalu
3. Resolusi/akhir adalah bagian yang berisi simpulan
dan amanat dari peristiwa yang telah terjadi
Ciri kebahasaan teks cerita sejarah
1. Menggunakan bentuk lampau
Contoh : pada zman dahulu, dahulu kala, pada waktu
itu
2. Menggunakan konjungsi yang menyatakan waktu
(konjungsi temporal)
Contoh : sejak, selama, sebelum, sesudah
3. Menggunakan kata kerja aktif
Contoh : peristiwa kebakaran itu menyebabkan
10 orang tewas
4. Menggunakan kata hubung untuk mengurutkan peristiwa
atau kejadian
Missal : dan, tetapi, setelah itu, kemudian
5. Menggunakan kata kerja yang menyatakan tindakan
Missal : tidur, pergi, lari
Unsur-Unsur
Cerita
1. Tema : inti cerita yang mendasari konflik
2. Tokoh : pelaku dalam cerita protagonist (baik),
antagonis (jahat), tritagonis (penengah)
3. Alur Maju : peristiwa terjadi secara berurutan
Alur Mundur : cerita diawali dari akhir konflik
4. Lattar/seting : tempat terjadinya peristiwa, waktu,
dan suasana
5. Gaya bahasa : cara penulis menggambarka ceritanya
dengan serangkaian kalimat yang khas
6. Sudut pandang : cara penggambaran cerita dengan kata
ganti
7. Perwatakan : karakter tokoh dalam cerita yang
disampaikan,
a. Secara langsung oleh penulis
Contoh : di pintar rajin menabung dan tidak sombong
b. Secara tidak langsung melalau :
1) Tingkah laku tokoh
Contoh : dia membuang punting rokok sembarangan
2) Pemikiran tokoh
3) Dialog antar tokoh
4) Pandangan hidup tokoh
8. Amanat : pesan yang disampaikan pengarang melalui
cerita yang ditulisnya
Ciri amanat :
1) Berisi hal baik atau kebaikan
2) Mengingatkan suatu hal yang posistif
3) Bisa diteladani
Teks
Editorial
Teks editorial
adalah teks yang berisi pendapat pribadi seseorang terhadap suatu isu/masalah
aktual.
Ciri-ciri teks Editorial :
1. Merupakan tulisan pendek
2. Tergolong prosa nonfiktif semi-ilmiah karena isu
factual (nyata)
3. Hanya dimuat di surat kabar
4. Gaya bahasa yang formal
5. Memberikan pandangan kepada masyarakat serta
bermaksud untuk mengajak agar tertarik dengan isu yang sedang diperbincangkan
6. Selain memberikan pandangan juga memberikan solusi
alternative
Lankah meyususn Alternative solusi
:
1) Kenali persoalan secara umum
2) Identifikasi masalah-masalah utama yang terkait
3) Tentukan fakta dan data penting yang terkait dengan
masalah
4) Carilah factor penyebab timbulnya masalah
5) Pertimabangkan kemungkinan jalan keluar dari
permasalahan
6) Pilihlah jalan keluar ayang dapat dilaksanakan
7) Periksa apakah penyelesaian masalah sudah tepat
Materi UN.9
Teks
Berita
Teks
berita adalah teks yang
berisi peristiwa/kejadian factual yang telah terjadi.
Struktur teks berita :
1. Judul/lead : disajikan singkat, padat, jelas, dan
tidak ambigu
2. Memuat informasi adisimba peristiwa/kejadian yang
terjadi
3. Tugu berita : memuat informasi dari narasumber
terkait peristiwa yang terjadi biasanya disajikan dengan kalimat yang
penulisanya diapit tanda petik (“”)
Materi UN.10
Fakta
dan Opini
Pengertian Fakta
(bahasa latin : Factus) adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra
manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan telah menjadi kenyataan.
Ciri-ciri fakta :
1.
Fakta adalah peristiwa yang sudah terjadi
2.
Ditandai kata “telah” dan “sudah”
3.
Mencantumkan data yang valid
4.
Memuat informasi waktu peristiwa yang
telah terjadi
Pengertian opini (opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran bersifat subyektif
karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian.
Ciri-ciri Opini :
1.
Peristiwa yang belum terjadi
2.
Bersifat subyektif
3.
Ditandai kata (mungkin, akan,
diperkirakan, harus, perlu, sebaiknya, menurut, bila, jika, kalau, usai)
Materi UN.11
Ide
Pokok/Gagasan Utama
Ide
pokok adalah pokok pikiran
utama dalam suatu paragraph dan terdapat dalam kalimat utama
Ciri-ciri :
1. Beberapa pernyataan umum
2. Ada diawal paragraph (deduktif)
3. Ada diakhir paragraph (induktif)
Jenis paragraph berdasarkan letak
gagasan pokok :
1. Deduktif adalah paragraph yang gagasan utamanya
berada diawal kalimat
2. Induktif adalah paragraph yang gagasan utamanya
berada diakhir kalimat
Jenis paragraph berdasarkan tujuan
:
Nama paragraf
|
Tujuan
|
Ciri-ciri
|
Deskripsi
|
Mengambarkan
objek
|
Ciri fisik
|
Eksposisi
|
menjelaskan
|
informatif
|
Persuasi
|
mengajak
|
Berisi
ajakan
|
Argumentasi
|
meykinkan
|
Opini
berdasarkan fakta
|
Narasi
|
menceritakan
|
Ada unsur
cerita
|
Sudut
Pandang
Sudut pandang adalah
cara yang digunakan penulis untuk menggambarkan cerita dengan menggunakan kata
ganti orang.
Jenis-jenis sudut
pandang :
1.
Sudut pandang
orang pertama : cerita yang ditulis dengan menggunakan kata ganti aku, saya,
gue
a.
Orang pertama
pelaku utama : tokoh “aku” sepenuhnya terlibat pada konflik cerita
b.
Orang pertama
pelaku sampingan : tokoh aku hanya sebagai pengamat dalam cerita, tetapi tetap
menggunkanan kata ganti “aku”,
2.
Susut pandang
orang ketiga : cerita ditulis menggunakan “ia”, “mereka”, atau nama tokoh dalam
cerita.
a.
Orang ketiga
pelaku utama : cerita ditulis dengan menggunakan kata ganti orang ketiga, penulis
hanya bisa menceritakan hal yang tampak/ bisa dimati
b.
Orang ketga
serba tahu : penulis dapat sepeneuhnya menggambarkan keseluruhan tooh dalam
cerita dan dapat menceritakan hal yang tampak maupun tidak
Penulisan
Judul Sesuai EYD
1.
Tiap kata dalam
judul di awali huruf capital.
Contoh : Cinta Lama Bersemi Kembali
2.
Konjungsi (kata
hubung), preposisi (kata depan) : di, ke, dari, pada., jika di tengah kata
ditulis huruf kecil semua tetapi apabila di awal judul huruf pertama ditulis
capital.
Contoh : Aku Kau dan KAU
Dari Monas Menuju Roma
Pada Suatu Senja di Taman Kota
3.
Kata ulang
sempurna, tiap unsurnya diawali huruf capital.
Contoh : Undang-Undang
yang Baru
Asas-Asas Hukum perdata
4.
Kata ulang
berubah bunyi, dan kata ulang berimbuhan di awali huruf capital hanya pada
huruf pertama unsur pertama.
Contoh : Puluhan Siswa
Kejar-mengejar Dalam Tawuran
Harga Sayur-mayur di Pasar Naik
Catatan :
Yang ditulis kecil jika di tengah judul
-di-ke-dari-pada-dan-atau-yang–untuk-dengan-dalam-kepada-sebagai-terhadap-jika-maka-tapi-karena-tentang-agar-supaya-hingga-sejak-pun-per-demi-si-meskipun-secara-seperti-ialah-ah,oh-deh-dong-ko

0 comment:
Posting Komentar