Senin, 31 Oktober 2016

Materi UN b.Indonesia kelas 12



Konjungsi Temporal
Konjungsi temporal adalah konjungsi yang menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa
Contoh : sebelum, ketika, sejenak, semenjak, setelah, sementara.
Konjungsi/kata hubung/kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan antar klause, antar kalimat, dan antar paragraph.
Ungkapan
Ungkapan adalah satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat) yang terbentuk dari gabungan kata yang maknanya bukan ditafsirkan berdasarkan kata – kata pembentuknya, tetapi telah membentuk makna baru.

Contoh :

Majas
Majas adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk menimbulkan kesan imajinatif atau menciptakan efek-efek tertentu bagi pembaca atau pendengarnya.
Jenis-jenis Majas terdiri dari :
1.       Majas perbandingan
a.       Asosiasi atau Perumpamaan
Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Contoh : Semangatnya keras bagaikan baja
Mukanya pucat bagai mayat.
b.       Metafora
Majas metafora adalah majas yang merubah kata yang bukan arti sebenarnya melainkan memiliki persamaan dengan kata yang diubah.
Contoh : Dia dianggap anak emas majikannya.
Perpustakaan adalah gudang ilmu.
c.        Personifikasi
Personifikasi adalah membuat benda-benda mati seolah olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh: Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.
d.       Simbolik
Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang.
Contoh:Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian
Melati, lambang kesucian Teratai, lambang pengabdian
e.        Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.
Contoh: Di kantongnya selalu terselib gudang garam. (rokok gudang garam)
Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api. (kopi kapal api)
2.       Majas Sindiran
a.       Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud menyindir.
Contoh:
Ini baru siswa teladan, setiap hari pulang malam.
Bagus sekali tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.
b.       Sinisme
Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh:
Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkan oleh orang terpelajar sepertimu.
Lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.
c.        Sarkasme
Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh:
Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!
Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus!
3.       Majas Penegasan
a.       Pleonasme
Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata.
Contoh:
Semua siswa yang di atas agar segera turun ke bawah.
Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan pesawat tempur.
b.       Repetisi
Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.
Contoh:
Dialah yang kutunggu, dialah yang kunanti, dialah yang kuharap.
Marilah kita sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idola kita, marilah kita sambut putra bangsa.
c.        Paralelisme
Paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalam puisi. Contoh:  Cinta adalah pengertian
 Cinta adalah kesetiaan
 Cinta adalah rela berkorban
d.       Tautologi
Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.
Contoh:
Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar pikiran saja.
Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara.
e.        Klimaks
Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut dan makin lama makin meningkat.
Contoh:
Semua orang dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri minyak.
Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.
f.        Antiklimaks
Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut- turut yang makin lama menurun.
Contoh:
Kepala sekolah, guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuran itu.
Di kota dan desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan HUT RI ke -62.
g.       Retorik
Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh: Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal saja?
4.       Majas Pertentangan .
a.       Antitesis
Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang berlawanan artinya.
Contoh: Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival itu.
Miskin kaya, cantik buruk sama saja di mata Tuhan.
b.       Paradoks
Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada.
Contoh;
Aku merasa sendirian di tengah kota Jakarta yang ramai ini.
Hatiku merintih di tengah hingar bingar pesta yang sedang berlangsung ini.
c.        Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta perhatian.
Contoh: Suaranya menggelegar membelah angkasa.
Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.
d.       Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang berlawanan dari kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk merendahkan diri.
Contoh:
Makanlah seadanya hanya dengan nasi dan air putih saja.
Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti saya ini?
Kalimat Efektif
Kalimat efektif merupakan kalimat yang mempunyai gagasan tidak amigo (bermakna ganda) sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, baik dari segi ejaan atau tanda baca.

Ciri-ciri kalimat efektif :
1)       Tidak terkontaminasi ejaan bahasa lain
Contoh : bukune fajar sing apik dewek <–> buku Fajar yang paling bagus
2)       Tidak menggunakan kata yang memiliki makna jama dalam satu kalimat
Contoh : para hadirin dipersilahkan duduk <– >hadirin dipersilahkan duduk
3)       Menggunakan kata baku
Contoh : sisiwa dilarang mencontek <– > dilarang menyontek
4)       Menggunakan kata bentukan yang tepat
Ktsp + vocal + me, me-i, me-kan
Contoh : konsumsi + me = mengonsumsi
Tutup + me = menutup
5)       Menggunakan konjungsi dengan tepat

Suatu kalimat dikatakan efektif jika memenuhi syarat berikut:
1)       Mudah untuk dipahami pembaca maupun pendengar.
2)       Tidak menimbulkan salah tafsir oleh pembacanya.
3)       Tepat cara  penulis menyampaikan pemikirannya kepada pembaca.
4)       Kalimatnya sistematis dan tidak bertele-tele.

Teks Cerita Sejarah
Teks cerita sejarah adalah teks yang berisi rangkaiana peristiwa yang telah terjadi
Struktur teks cerita sejarah
1.       Orientsi/pengenalan adalah bagian yang berisi informasi mengenai apa, dimana, kapan, peristiwa terjadi dimasa lalu
2.       Peristiwa /event adalah bagian yang memberikan informasi mengenai peristiwa secara kronologis yang terjadi dimasa lalu
3.       Resolusi/akhir adalah bagian yang berisi simpulan dan amanat dari peristiwa yang telah terjadi
Ciri kebahasaan teks cerita sejarah
1.       Menggunakan bentuk lampau
Contoh : pada zman dahulu, dahulu kala, pada waktu itu
2.       Menggunakan konjungsi yang menyatakan waktu (konjungsi temporal)
Contoh : sejak, selama, sebelum, sesudah
3.       Menggunakan kata kerja aktif
Contoh : peristiwa kebakaran itu menyebabkan 10 orang tewas
4.       Menggunakan kata hubung untuk mengurutkan peristiwa atau kejadian
Missal : dan, tetapi, setelah itu, kemudian
5.       Menggunakan kata kerja yang menyatakan tindakan
Missal : tidur, pergi, lari
Unsur-Unsur Cerita
1.       Tema : inti cerita yang mendasari konflik
2.       Tokoh : pelaku dalam cerita protagonist (baik), antagonis (jahat), tritagonis (penengah)
3.       Alur Maju : peristiwa terjadi secara berurutan
Alur Mundur : cerita diawali dari akhir konflik
4.       Lattar/seting : tempat terjadinya peristiwa, waktu, dan suasana
5.       Gaya bahasa : cara penulis menggambarka ceritanya dengan serangkaian kalimat yang khas
6.       Sudut pandang : cara penggambaran cerita dengan kata ganti
7.       Perwatakan : karakter tokoh dalam cerita yang disampaikan,
a.       Secara langsung oleh penulis
Contoh : di pintar rajin menabung dan tidak sombong
b.       Secara tidak langsung melalau :
1)       Tingkah laku tokoh
Contoh : dia membuang punting rokok sembarangan
2)       Pemikiran tokoh
3)       Dialog antar tokoh
4)       Pandangan hidup tokoh
8.       Amanat : pesan yang disampaikan pengarang melalui cerita yang ditulisnya
Ciri amanat :
1)       Berisi hal baik atau kebaikan
2)       Mengingatkan suatu hal yang posistif
3)       Bisa diteladani
Teks Editorial
Teks editorial adalah teks yang berisi pendapat pribadi seseorang terhadap suatu isu/masalah aktual.
Ciri-ciri teks Editorial :
1.       Merupakan tulisan pendek
2.       Tergolong prosa nonfiktif semi-ilmiah karena isu factual (nyata)
3.       Hanya dimuat di surat kabar
4.       Gaya bahasa yang formal
5.       Memberikan pandangan kepada masyarakat serta bermaksud untuk mengajak agar tertarik dengan isu yang sedang diperbincangkan
6.       Selain memberikan pandangan juga memberikan solusi alternative
Lankah meyususn Alternative solusi :
1)       Kenali persoalan secara umum
2)       Identifikasi masalah-masalah utama yang terkait
3)       Tentukan fakta dan data penting yang terkait dengan masalah
4)       Carilah factor penyebab timbulnya masalah
5)       Pertimabangkan kemungkinan jalan keluar dari permasalahan
6)       Pilihlah jalan keluar ayang dapat dilaksanakan
7)       Periksa apakah penyelesaian masalah sudah tepat

Materi UN.9
Teks Berita
Teks berita adalah teks yang berisi peristiwa/kejadian factual yang telah terjadi.
Struktur teks berita :
1.       Judul/lead : disajikan singkat, padat, jelas, dan tidak ambigu
2.       Memuat informasi adisimba peristiwa/kejadian yang terjadi
3.       Tugu berita : memuat informasi dari narasumber terkait peristiwa yang terjadi biasanya disajikan dengan kalimat yang penulisanya diapit tanda petik (“”)

Materi UN.10
Fakta dan Opini
Pengertian Fakta (bahasa latin : Factus) adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan telah menjadi kenyataan.
Ciri-ciri fakta :
1.       Fakta adalah  peristiwa yang sudah terjadi
2.       Ditandai kata “telah” dan “sudah”
3.       Mencantumkan data yang valid
4.       Memuat informasi waktu peristiwa yang telah terjadi
Pengertian opini (opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran bersifat subyektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian.
Ciri-ciri Opini :
1.       Peristiwa yang belum terjadi
2.       Bersifat subyektif
3.       Ditandai kata (mungkin, akan, diperkirakan, harus, perlu, sebaiknya, menurut, bila, jika, kalau, usai)

Materi UN.11
Ide Pokok/Gagasan Utama
Ide pokok adalah pokok pikiran utama dalam suatu paragraph dan terdapat dalam kalimat utama
Ciri-ciri :
1.       Beberapa pernyataan umum
2.       Ada diawal paragraph (deduktif)
3.       Ada diakhir paragraph (induktif)
Jenis paragraph berdasarkan letak gagasan pokok :
1.       Deduktif adalah paragraph yang gagasan utamanya berada diawal kalimat
2.       Induktif adalah paragraph yang gagasan utamanya berada diakhir kalimat
Jenis paragraph berdasarkan tujuan :
Nama paragraf
Tujuan
Ciri-ciri
Deskripsi
Mengambarkan objek
Ciri fisik
Eksposisi
menjelaskan
informatif
Persuasi
mengajak
Berisi ajakan
Argumentasi
meykinkan
Opini berdasarkan fakta
Narasi
menceritakan
Ada unsur cerita
Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara yang digunakan penulis untuk menggambarkan cerita dengan menggunakan kata ganti orang.
Jenis-jenis sudut pandang :
1.        Sudut pandang orang pertama : cerita yang ditulis dengan menggunakan kata ganti aku, saya, gue
a.        Orang pertama pelaku utama : tokoh “aku” sepenuhnya terlibat pada konflik cerita
b.        Orang pertama pelaku sampingan : tokoh aku hanya sebagai pengamat dalam cerita, tetapi tetap menggunkanan kata ganti “aku”,
2.        Susut pandang orang ketiga : cerita ditulis menggunakan “ia”, “mereka”, atau nama tokoh dalam cerita.
a.        Orang ketiga pelaku utama : cerita ditulis dengan menggunakan kata ganti orang ketiga, penulis hanya bisa menceritakan hal yang tampak/ bisa dimati
b.        Orang ketga serba tahu : penulis dapat sepeneuhnya menggambarkan keseluruhan tooh dalam cerita dan dapat menceritakan hal yang tampak maupun tidak
Penulisan Judul Sesuai EYD
1.       Tiap kata dalam judul di awali huruf capital.
Contoh : Cinta Lama Bersemi Kembali
2.       Konjungsi (kata hubung), preposisi (kata depan) : di, ke, dari, pada., jika di tengah kata ditulis huruf kecil semua tetapi apabila di awal judul huruf pertama ditulis capital.
Contoh : Aku Kau dan KAU
Dari Monas Menuju Roma
                        Pada Suatu Senja di Taman Kota
3.       Kata ulang sempurna, tiap unsurnya diawali huruf capital.
Contoh : Undang-Undang yang Baru
                        Asas-Asas Hukum perdata
4.       Kata ulang berubah bunyi, dan kata ulang berimbuhan di awali huruf capital hanya pada huruf pertama unsur pertama.
Contoh : Puluhan Siswa Kejar-mengejar Dalam Tawuran
                        Harga Sayur-mayur di Pasar Naik

Catatan :
Yang ditulis kecil jika di tengah judul
-di-ke-dari-pada-dan-atau-yang–untuk-dengan-dalam-kepada-sebagai-terhadap-jika-maka-tapi-karena-tentang-agar-supaya-hingga-sejak-pun-per-demi-si-meskipun-secara-seperti-ialah-ah,oh-deh-dong-ko

0 comment:

Posting Komentar